Seminar Internasional Fiqh Wasathiyah, STAI Muhammadiyah Blora Tegaskan Pentingnya Pemahaman Moderat dan Kontekstual

Blora STAI Muhammadiyah Blora menggelar Seminar Internasional bertema “Wasathiyah Fiqh in Islamic Education: Building Character and Religious Modernization” pada Senin, 29 Desember 2025, bertempat di Campus Hall STAI Muhammadiyah Blora. Kegiatan ini dihadiri akademisi, mahasiswa, serta masyarakat umum, baik secara luring maupun daring.

Seminar ini menghadirkan Syaikh ‘Adil As-Syu’aibi Al-Adni Al-Yamani dari Yaman sebagai pembicara utama, serta Dr. H. Sukisno, M.Pd.I, Ketua STAI Muhammadiyah Blora, sebagai keynote speaker. Kehadiran ulama internasional tersebut disambut hangat oleh civitas akademika sebagai momentum penting dalam memperdalam pemahaman fiqh Wasathiyah yang relevan dengan tantangan zaman.

Dalam sambutannya, Dr. Sukisno menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas kesediaan Syaikh ‘Adil hadir di Blora. Menurutnya, tema yang diangkat sangat menyentuh kondisi umat Islam saat ini, terutama dalam menjaga keseimbangan antara teks agama dan realitas sosial.

Ia menegaskan bahwa pemikiran KH Ahmad Dahlan menjadi pijakan penting dalam memahami fiqh secara kontekstual. “Fiqh tidak boleh dipahami secara kaku. Ia harus hidup, menjawab persoalan zaman, tetapi tetap berpijak pada nilai-nilai otentik Islam,” ujarnya.

Dr. Sukisno juga menyinggung tiga pilar utama dalam Wasathiyah, yakni keseimbangan, keadilan, dan moderasi, yang dinilainya sangat relevan di tengah arus globalisasi dan digitalisasi saat ini. Ia mengingatkan bahwa pemahaman Wasathiyah sering kali dipersepsikan berbeda-beda di berbagai tempat.

“Dalam praktiknya, ada dua kecenderungan pemahaman. Pertama, Wasathiyah dalam fiqh muamalah dan aspek kehidupan lainnya yang menekankan kemudahan. Namun, jika tidak hati-hati, kemudahan itu bisa bergeser menjadi sikap menyepelekan agama,” jelasnya.

Karena itu, ia menegaskan bahwa Wasathiyah tidak boleh dimaknai sebagai kebebasan tanpa batas. Pemahaman moderat harus tetap sesuai dengan tuntunan yang telah dijelaskan Rasulullah SAW serta berada dalam koridor perintah dan larangan Allah SWT. “Ketika seseorang melampaui batas-batas itu, maka ia justru keluar dari esensi Islam,” tambahnya.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya mengikuti para mujtahid dalam berijtihad, tanpa melampaui batas-batas yang telah mereka tetapkan. Wasathiyah, menurutnya, bukan kompromi terhadap prinsip, melainkan sikap adil dan seimbang dalam memahami dan mengamalkan agama.

Seminar internasional ini diharapkan menjadi momentum intelektual bagi mahasiswa dan masyarakat untuk mendalami fiqh Wasathiyah secara lebih mendalam, moderat, modern, namun tetap otentik. STAI Muhammadiyah Blora menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan ruang-ruang dialog akademik yang mendorong Islam sebagai rahmat bagi semesta alam.

Kontributor : Muhammad Haydar Ammar

Informasi Pendaftaran Mahasiswa Baru STAIM Blora

Ikuti STAIM BLORA di Media Sosial.